Just in case
"Viral Load untuk melihat keberhasilan pengobatan HIV, Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan."

Surat dari Busan 1 (ICAAP 10)

Hari ini hari pertama acara penuh di ICAAP X bagi saya, yaitu Community Forum. Pembukaan resmi konferensi baru besok sore. Community Forum ini merupakan tradisi ICAAP dan konferensi AIDS sedunia, acara prakonferensi untuk menyampaikan suara komunitas.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh wakil masyarakat sipil Korea Selatan dan Koordinator Koalisi Jaringan Regional Asia-Pasifik untuk HIV/AIDS.

Mereka berdua, selain menyambut para peserta yang jumlahnya sekitar 400 orang, a.l. menyayangkan kurang suportifnya pemerintah Korea Selatan, yang menolak permohonan visa beberapa aktivis yang HIV+, waria, pekerja seks dll.

Kemudian semua peserta menyimak 4 presentasi, masing2 mengenai:

1. Perlindungan sosial, dibawakan oleh Clifton Cortez dari UNDP;

2. Akses pengobatan, dibawakan oleh Rico Gustav dari APN+;

3. Pengobatan sebagai pencegahan, dibawakan oleh John Rock dari APN+;

4. Pentingnya para aktivis menggunakan kerangka HAM dalam menuntut negara menjamin hak atas kesehatan dll., oleh Andrew Hunter dari APNSW.

Kemudian peserta dibagi menjadi berbagai kelompok sesuai komunitasnya atau minatnya, seperti ODHIV, orang muda, GWL/LGBT, perempuan dan anak perempuan, pekerja seks, orang yang menggunakan narkotIk, antariman, dan migran. Saya ikut kelompok GWL/LGBT yang diselenggarakan oleh APCOM, yang dijuduli “Beyond Numbers: Getting to Zero: The Forces Driving HIV Among MSM and Transgender People in Asia-Pacific.”

Bagian acara ini dimulai dengan ucapan selamat datang oleh Dr Stuart Koe, Ketua Bersama APCOM, dan Jung Yol, wakil dari Solidaritas untuk HAM LGBT Korea. Kembali peserta mendengarkan presentasi dari:

1. Dr Frits van Griensven dari CDC (Pusat Penanggulangan Penyakit) AS, tentang HIV dan isyu2 sindemik di seputar risiko dan kerentanan GWL;

2. Clifton Cortez dari UNDP, tentang HIV dan hukum, khususnya perkembangan Komisi Global HIV, yang berusaha merombak per-undang2an yang menghambat penanggulangan HIV dan AIDS;

3. Geoff Manthey dari UNAIDS, mewakili Direktur Tim Dukungan Regional Asia-Pasifik UNAIDS, Steve Kraus, tentang akses universal bagi GWL, dan tindak lanjut Pertemuan Tingkat Tinggi di PBB Juni y.l.

Kemudian peserta dibagi menjadi berbagai kelompok minat, yaitu agama dan kepercayaan, interaksi dengan sektor kesehatan, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk riset, pencegahan dan perawatan, riset sosial, kesehatan waria, dan hidup dengan HIV.

Saya menjadI fasilitator kelompok riset sosial bersama Prof. Gary Dowsett dari La Trobe Uni, Australia. Kami meneruskan pembicaraan tentang sindemi, yang kami sadari mempunyai implikasi mendalam berupa pentingnya pemahaman akan aspek sosial, politik dan budaya dalam menghadapi epidemi HIV, juga pendekatan struktural.

Kami juga mengakui pentingnya riset dilaksanakan dengan benar dan berkualitas, siapa pun yang melaksanakannya, apakah akademisi maupun aktivis komunitas. Hanya dengan pemahaman yang mendalam seperti inilah intervensi kita akan benar2 efektif dan tepat arah. APCOM diharapkan memfasilitasi peningkatan kapasitas penelitian seperti ini. Khusus mengenai riset tentang seksualitas dicatat keengganan banyak pihak di Asia-Pasifik untuk melakukannya ataupun mendukungnya. Lembaga seperti APCOM diharapkan dapat melakukan advokasi agar topik2 yang “sensitif” dapat diteliti, atau melakukannya pada peringkat internasional untuk menghindarkan pemegang kekuasaan yang konservatif atau bermain politik agamis dan menghambat penelitian.

Salah satu “bintang tamu” pada kelompok agama dan kepercayaan adalah Muhsin Hendricks dari Durban, Afrika Selatan, seorang ulama gay, yang pada acara pleno rangkuman diskusi2 kelompok menyatakan bahwa GWL atau LGBT yang tetap memeluk agamanya perlu berpikir lebih mendalam untuk memahami kekeliruan tafsir agama saat ini yang homofobik dan transfobik. Ada kabar yang gembira: saya diminta menjadi pelapor track D dan F, masing2 tentang membangun dan mendukung pemimpin dan advokat (politik, ekonomi, agama, budaya, orang muda, media), dan mengatasi hambatan HAM, hukum dan kebijakan.

Demikian laporan dari Busan hari ini.

Facebook Comments