Just in case
"Viral Load untuk melihat keberhasilan pengobatan HIV, Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan."

Gay, Sahabat Baru #KitaPeduli

LGBT yang kita tau itu punya kepanjangan yaitu, Lesbian Gay Bisexual dan Transgender/Transexual. Lesbian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘wanita yang mencintai atau merasakan rangsangan seksual sesama jenisnya; wanita homoseks.’ Tapi kalo buat gay di KBBI itu nggak ada definisinya. Sedangkan Bisexual itu penyuka 2 jenis kelamin baik itu perempuan dan laki-laki, satu lagi itu adalah transgender atau transexual, itu adalah 2 hal yang berbeda. Transgender itu laki-laki yang berdandan seperti perempuan tetapi tidak merubah atau mengoperasi alat kelamin begitu juga sebaliknya. Nah kalo transexual itu sama kayak transgender tapi mereka udah ngerubah alat kelaminnya (misal penis menjadi vagina, atau sebaliknya).

Menurut yang kita tau itu lesbian memiliki tingkat tertular HIV yang paling rendah atau tidak beresiko, tapi kalo gay sangat beresiko karena mereka melakukan penetrasi melalui anal atau yang bisa dibilang anal seks.

Kita sekelompok karena sangat penasarannya tentang isu LGBT dibantuin sama kak Ayu untuk bisa ketemu sama temen-temen dari OurVoice yaitu kak Teguh sama kak Luthfi. Nah sekarang kita coba nuangin apa yang kita obrolin ke artikel yaa 😉

Pertanyaan umum yang udah terlalu sering diajukan, “sudah berapa lama menjadi homoseksual?” jawaban dari Kak Teguh yang berupa pertanyaan balik adalah “sudah berapa lama menjadi heteroseksual?” tentu saja untuk heteroseksual pasti akan menjawab “selama hidup saya” maka jawabannya dari Kak Teguh juga sama. Untuk sebagian atau bahkan lebih, homoseksual hidup dengan keadaan menyukai sesama jenis sejak dilahirkan, sejak mereka belum tau apa-apa. Apakah menyukai sesama jenis itu pilihan? Jawabannya “BIG NO NO” tapi bukan berarti itu adalah takdir. Antara takdir dan pilihan, hmm pertanyaan yang sampai detik ini pun belum kami ketahui jawabannya. Tapi yang saya tau adalah semua yang telah terjadi, terjadi karna  rasa cinta, rasa nyaman yang tidak kita temukan dari orang lain.

Masyarakat sering bertanya, “kok bisa sih laki-laki suka sama laki-laki? Perempuan suka sama perempuan?” jawabannya sangat sederhana, “It’s all about feeling”. LGBT dan heteroseksual adalah sama, kita sama-sama memiliki perasaan. Pertama-mana memang terjadi gejolak dihati para LGBT, galau kronis pun pasti melanda, karna terdapat pertanyaan besar didalam diri mereka masing-masing apakah benar mereka menyukai sesama jenis? Dan awalnya pasti terjadi denial, karna untuk mengakui bahwa mereka homoseksual pasti bukan hal mudah semudah membalikkan telapak tangan. Karna ketika anda berani mengakui bahwa anda homoseksual, itu berarti anda sudah siap untuk menerima resiko-resiko yang akan datang. Entah itu resiko diusir orang tua dari rumah karna malu punya anak homoseksual, dijauhi oleh teman-teman, di olok-olok oleh tetangga atau bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Sungguh berat bukan? Kalau sudah begitu siapa yang harus disalahkan? Tidak ada!

Bicara tentang diskriminasi, untuk kaum gay, lesbian dan biseksual mungkin tidak merasakan tindak diskriminasi secara langsung, tapi untuk kaum transgender/transsexual, mereka benar-benar merasakan secara langsung di diskriminasi bahkan oleh pemerintah kita sendiri. Hak asasi mereka direbut secara paksa. Contoh kecil yang terjadi adalah ketika kaum transgender ingin membuat KTP (Kartu Tanda Penduduk), mereka diharuskan untuk berpakaian seperti jenis kelamin bawaan mereka. Sesungguhnya waria nyaman memakai pakaian perempuan, tapi ketika membuat KTP mereka benar-benar harus berubah menjadi lelaki sejati yang tentu saja itu membuat mereka tidak nyaman dengan diri mereka sendiri. Sungguh ironis, ntuk hal sekecil ini saja harus dipermasalahkan.

Untuk kaum gay, lesbian dan bisexual, mereka lebih sering merasakan tindak bullying, tapi bukan berarti waria tidak merasakannya. Justru waria jugalah yang paling merasakan hal ini. Jika gay, lesbian dan bisexual hanya mendapat tindak bullying dikalangan sepermainan dan tetangga, waria di-bully disepanjang jalan dan dimana saja. Dan yang mem-bully waria adalah anak-anak kecil yang belum tau apa-apa. Bagaimana bisa anak kecil sudah dibiarkan untuk melakukan hal tidak baik seperti mem-bully waria. Mungkin anak kecil mem-bully waria karna merasa lucu, tapi bagaimana dengan orang dewasa? Mereka bahkan tampak lebih berani lagi membully waria, bukan Cuma mem-bully, tapi mereka juga melecehkan waria secara fisik, seperti mencolek pantat mereka. Apakah itu tindakan yang benar? Tentu saja salah besar! Dengan melecehkan seperti itu, orang tua sudah mengajarkan hal yang tidak baik kepada anak-anaknya, ya tidak heran anak-anaknya tampak sangat bahagia kalo liat waria lewat.

Tapi sebenernya kalo ngomongin hubungan LGBT dan HIV AIDS itu adalah baik itu yang beresiko ataupun tidak itu kembali lagi ke seks yang aman. Yaitu dengan menggunakan kondom dan alat-alat lain yang bisa membuat seks yang dilakukan aman. Kalo tambahan dari kak Luthfi sendiri ia mengecek HIV dan AIDS setiap  3 bulan sekali. Buat apa? Sebenernya sih kalo secara logikanya adalah kalo ditemukan yang janggal atau worst case di dalam tubuh ditemukan virus HIV baik itu banyak maupun sedikit, agar bisa ditindak dengan cepat dan dengan cara yang baik dan benar. Sehingga bagi kehidupan di masa depannya sendiri, bisa diperbaiki dan dengan cepat bisa pulih atau paling tidak mengurangi virus yang ada di badan.

Jadiiiii kesimpulan yang kita dapet dari perbincangan yang kita lakukan bersama kak Luthfi dan kak Teguh adalah tidak ada yang salah di dunia karena apa yang kita lakukan sebenarnya sesuai dengan kenyamanan kita sendiri. Terus buat seks aman adalah dengan menggunakan kondom sesuai dengan anjuran dan tes HIV.

Picture by google.

Facebook Comments

Incoming search terms:

  • cerita sek anal transgender
  • Cerpen sek anal waria
  • verita sek enal
  • waria sama lesbian