Just in case
"Viral Load untuk melihat keberhasilan pengobatan HIV, Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan."

Refleksi I jelang Hari AIDS Sedunia 2012,

Peran perayaan HAS dan stigma yang berujung diskriminasi pada ODHA.

Sebentar lagi kita kembali akan mengenang Hari AIDS Sedunia (HAS). Ini adalah sebuah hari yang didedikasikan guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan epidemi AIDS yang terus meluas di dunia. Sejarah dikenangnya hari ini bisa dilacak pertama kali dicetuskan oleh James W Bunn dan Thomas Netter, dua orang pekerja di Organisasi Kesehatan Dunia bagian informasi publik. Ide akan perlunya sebuah hari dimana akan digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan ini kemudian mulai diadakan pertama kalinya pada tanggal 1 Desember 1988. Ide pemilihan 1 Desember ini dikarenakan pada tahun 1988 ini adalah tahun diadakannya pemilihan umum di Amerika sehingga tanggal 1 desember akan menjadi waktu yang tepat sebab berjauhan dengan masa pemilu serta berjauhan pula dengan perayaan natal yang biasanya akan menyedot perhatian media massa.

Situasi di Indonesia sendiri menunjukkan trend epidemi AIDS yang terus menunjukkan peningkatan baik secara jumlah maupun luas wilayah sebaran. Berdasarkan laporan per Juni 2012 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan, angka kasus kumulatif yang dilaporkan untuk HIV mencapai 86.762 kasus dengan 32.103 kasus diantaranya adalah kasus AIDS. Dari kasus AIDS tersebut, didapati bahwa ada kasus pada 21.707 laki-laki dan 8.970 kasus pada perempuan. Laporan kasus ini pun telah ditemui di semua wilayah propinsi di Indonesia.

Setiap 1 Desember pun, layaknya negara-negara lain, Indonesia turut mengenang Hari AIDS Sedunia ini. Kegiatan-kegiatan yang dibuat jelang, pas di hari H dan pasca 1 Desember ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat Indonesia akan penyebaran epidemi AIDS yang terus meluas hingga masuk ke dalam tataran rumah tangga dengan memakan korban banyak ibu rumah tangga serta anak-anak yang harus terlahir dengan HIV dalam tubuhnya. Kegiatan ini ada yang dilaksanakan oleh Pemerintah dengan leading sectornya berasal dari Anggota KPAN, komponen masyakat sipil maupun juga pihak mass media yang secara jor-joran mengumbar informasi terkait HIV dengan mimpi apa yang dikerjakan bisa membuat masyarakat menjadi waspada.

Satu fenomena yang terjadi jelang perayaan HAS ini adalah banyak penyelenggara kegiatan yang mendadak “membutuhkan” ODHA sebagai nara sumber kegiatan. Guyonan yang beredar di komunitas ODHA sendiri sering didengar jika “Rate (fee)Ā ODHA lagi naik nih karena banyak permintaan..” šŸ™‚ Harapannya, dengan adanya testimoni kehidupan seorang ODHA, akan membuat masyarakat sadar dan menjauhi tindakan yang berpotensi tertular HIV. Namun pada kenyataannya, kerap kali testimoni kehidupan ini diminta untuk menunjukkan sisi betapa kelamnya kehidupan si nara sumber sebelum tahu dirinya terinfeksi HIV sampai dengan betapa menyesal serta kepasrahan diri seorang ODHA yang layaknya hendak menanti ajal. Secara singkatnya, ODHA diharapkan memberikan kesaksian mendayu-dayu layaknya cerita Oh Mama Oh Papa (Tulisan di Majalah Perempuan jaman dulu) sehingga asumsi yang berkembang di masyarakat adalah HIV penyakit orang dengan perilaku yang sering dikatakan menyimpang (pengguna narkotika, pekerja seks dan LGBT), penyakit yang tidak ada obatnya karena kutukan sampai dengan terkena HIV sama dengan Mati.

Ini tentu saja sebuah pesan yang keliru dan malah mengaburkan kewaspadaan masyarakat akan bahaya HIV itu sendiri. Kesan bahwa ini hanya dialami oleh komunitas tertentu akan membuat kita lalai dengan merasa bahwa kita tidak beresiko. Padahal faktanya, semua orang beresiko terinfeksi HIV. HIV tidak mengenal usia, jenis kelamin, latar belakang maupun agama. Penyakit yang tidak ada obatnya serta terkena HIV sama dengan mati juga membuat masyarakat bukannya waspada melainkan ketakutan bila mendengar, melihat atau berinteraksi dengan ODHA yang ujungnya akan membuat diskriminasi pada ODHA. Faktanya, dengan terapi ARV seorang ODHA bisa tetap hidup sehat selama bertahun-tahun.

Bertahun-tahun perayaaan yang justru mengaburkan kewaspadaan masyarakat serta kemudian mendorong terjadinya Stigma serta Diskriminasi pada ODHA terus dipertahankan. Pihak media pun seperti tidak mau kalah dengan berlomba-lomba memampang kesaksian ini yang kadang bahkan dilakukan dengan cara yang tidak manusiawi seperti meminta nara sumber menggunakan topeng atau mengaburkan bagian wajah hanya demi mendapatkan sepotong cerita mendayu-dayu.

Sudah saatnya kegiatan seperti ini dihentikan. Karena ini hanya akan merugikan masyarakat banyak. Kita perlu berpikir secara cerdas guna melihat bentuk kegiatan seperti apakah yang tepat dilakukan guna mengenang Hari AIDS Sedunia sehingga masyarakat benar-benar menjadi waspada akan bahaya infeksi HIV. Kegiatan yang cerdas tanpa lagi-lagi menjadikan ODHA sebagai komoditas yang berguna memancing derai air mata penonton. Kegiatan cerdas yang berguna bukan untuk menakut-nakuti berdekatan dengan ODHA namun berisi ajakan untuk memperlakukan setiap manusia, baik ODHA maupun bukan, dengan perlakuan yang sama.

Yuk kita buat agenda mengenang Hari AIDS Sedunia 2012 ini secara cerdas. Kita pasti Bisa!!

 

Facebook Comments

Incoming search terms:

  • hari aids
  • hari aids sedunia 2012
  • aids sedunia
  • hari aids sedunia tahun 2012