Just in case
"Viral Load untuk melihat keberhasilan pengobatan HIV, Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan."

Dukungan Sosial Pada ODHA

Beberapa bulan lalu, saya menyempatkan diri mengikuti sebuah talk show pada kamis (1/12/2012) yang diselenggarakan untuk memperingati Hari AIDS Se-Dunia. Talk show ini diadakan oleh  UKM GERMAN Universitas Negeri Malang. Perlu diketahui bawa GERMAN sendiri  merupakan sebuah  unit kegiatan mahasiswa yang berkecimpung pada dunia anti napza.

Usai moderator membuka acara, semua pandangan tertuju pada seorang wanita berusia tigapuluhtahunan di atas panggung. Saat pembawa acara  meminta beliau memperkenalkan diri, dia berkata,” Nama Saya Vivi. Saya mantan pecandu narkoba dan Saya seorang ODHA”

Saya terhenyak mendengar perkenalan singkat itu. Vivi, yang saat itu didapuk sebagai narasumber, telah membuat sebuat keputusan yang sangat berani dengan mengutarakan identitasnya sebagai seorang Odha.  Sebuah identitas yang biasanya sangat dirahasiakan bahkan dari keluarga sekalipun. Saya acungi jempol. Usai mengikuti talk show itu, saya merasakan sedikit pencerahan tentang keberadaan ODHA di sekitar kita.   Pencerahan ini akan saya kupas habis pada tulisan kali ini. Cekidot ^_^

A. SIAPAKAH ODHA?

Sebelum mengulas perihal Odha, ada baiknya kalau saya ulas dulu istilah-istilah yang berkaitan dengan itu. Ada beberapa Istilah  dalam  dunia HIV dan AIDS yang perlu diketahui dan diahami lebih lanjut. Istilah itu adalah ODHA dan OHIDA.

ODHA mengacu pada Orang dengan HIV dan AIDS. Odha digunakan sebagai pengganti istilah untuk seseorang yang dinyatakan positit terinveksi HIV.  ODHA mulai digunakan untuk menggantikan istilah pengidap, penderita, dan istilah lain yang dinilai kurang manusiawi. Penggunaan kata ODHA diajurkan oleh Prof Dr Antom M. Moeliono, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Dekdibdud, kepada aktivis YPI Al. Husein Habsy dan Alm Suzana Murni (16/11/1995). Istilah ODHA dianggap lebih netral dan dinamis (health.groups.yahoo.com, 12/6/2008).   Sekarang, istilah ODHA sudah digunakan secara luas untuk menggantikan kata pengidap.

Selain Odha, ada pula istilah Ohida. Istilah ini muncul dari PWA atau PLWHA (People Living with HIV dan AIDS) yang lebih populer digunakan di dunia. Akhirnya, muncullah istilah Ohida yang mengacu pada Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS. Istilah ini mencangkup pada infected people (orang yang terinfeksi) dan affected people (masyarakat yang terkena dampak).

B. BAGAIMANA HIV dan AIDS BISA MENJANGKITI TUBUH MANUSIA?
HIV dan AIDS termasuk katagori penyakit menular. Namun, penularannya tidak lewat udara seperti flu atau kontak tubuh sepeti kudis. HIV dan AIDS ditularkan melalui 3 cara yaitu kontak seksual dengan ODHA, kontaminasi darah yang terinfeksi dengan virus, dan penularan masa parinatal.

  1. Kontak seksual dengan ODHA. Penularan HIV tertinggi terjadi ketika masa awal dan akhir terinfeksi  karena beban virus paling banyak atau tinggi pada waktu itu. Beban virus adalah jumlah virus aktif yang ada di dalam tubuh. Pada masa itu, seorang ODHA hanya mendapati sedikit gejala bahkan tidak sama sekali (id.wikipedia.org). Ketika seorang ODHA berhubungan seksual dengan orang yang sehat maka virus itu akan berpindah melalui kontak cairan kelamin. Oleh karena itu, resiko penularan akan lebih tinggi jika melakukan hubungan seksual secara normal daripada oral sex. Resiko penularan melalui kontak seksual semakin tinggi karena fenomena free sex yang mulai marak di Indonesia. Banyaknya lokalisasi, gang abu-abu dan kupu-kupu malam menimbulkan resiko penularan yang sangat tinggi karena  siapapun bisa keluar-masuk untuk berhubungan seksual di sana. Tak ada apapun yang bisa mendeteksi apakah pengunjung atau penjaja cinta yang terjangkit virus. Padahal, ketika terlanjur melakukan kontak seksual dengan ODHA, semuanya sudah terlambat karena virus sudah terlanjur menular. Berdasarkan keterangan yang dilansir oleh Komisi Nasional Penanggulangan AIDS Nasional dalam simposium internasional mengenai AIDS, kecenderungan penularan HIV dan AIDS pada kurun 2011 didominasi oleh seks bebas yang mencapai persentase sebesar 76,3%. Data ini berbanding terbalik dengan data pada 2006 yang  hanya menunjukkan persentase sebesar 38,5% (kompas.com, 21/11/2011).  Salah satu propinsi dengan dominasi kontak seksual yang sangat tinggi adalah Kalimantan Selatan yang mencapai 56% (kompas.com, 3/12/2012).
  2. Kontaminasi darah yang terinfeksi dengan virus. Kontaminasi ini berarti terjadi kontak darah antara Odha dengan orang sehat lewat media atau proses tertentu sehingga virus akan menular melalui salah satunya. Kontaminasi ini terjadi melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian antara Odha dengan orang sehat atau melalui tranfusi darah. Penggunaan jarum suntik erat hubungannya dengan penggunaan jarum untuk  memasukkan narkotika ke dalam tubuh. Ketika sekelompok pecandu berkumpul dan melakukan pesta shabu, seringkali mereka mengunakan jarus suntik secara bergantian. Dalam situasi ini, jarum menjadi media primer yang bisa menghantarkan virus ke orang lain. Berdasarkan keterangan yang dilansir oleh Komisi Nasional Penanggulangan AIDS Nasional dalam simposium internasional mengenai AIDS,  kecenderungan penularan HIV dan AIDS pada kurun 2006 didominasi dengan penggunaan jarum suntik yang mencapai presentase sebesar  54,42%. Namun, kondisi yang berbeda justru ditemukan pada tahun 2011 yang menunjukkan penurunan presentase menjadi 16,3% (kompas.com, 21/11/2011).
  3. Penularan masa parinatal. Penularan ini hanya melibatkan ibu dan anak. Masa parinatal mencakup saat di dalam rahim, proses persalinan, dan menyusui. Resiko penularan akan semakin meningkat ketika sel imun ibu (CD4+) mengalami penurunan dan RNA virus dalam kondisi tinggi (id.wikipedia.org). Dalam kurun 5 tahun terakhir ini, persentase penularan HIV dari ibu ke anak meningkat 150%. Semula, presentasenya hanya 1,2% dari total pengidap, sekarang, menjadi 2,7% (kompas.com, 4/7/2012).
Presentase-presentase di atas tentu tidak boleh diremehkan. Presentase itu menandakan bahwa penularan HIV dan AIDS dapat lewat mana saja. Oleh karena itu, kita harus mewaspadai semuanya.
C. KISAH DIBALIK ODHA: TENTANG VONIS DAN DISKRIMINASI
Saya jamin. Siapapun tidak ingin menjadi Odha bahkan penyuka free sex dan pecandu narkoba sekalipun. Semua mungkin setuju jika menjadi Odha bukanlah pilihan, Namun, vonis itu harus diterima meski terasa sangat menyakitkan dan penuh ketidakadilan. Mengapa tidak adil? Sungguh, banyak orang yang menjadi Odha padahal kehidupan mereka baik-baik saja. Mereka bukan pecandu atau penyuka free sex. Namun, mereka terjangkit virus karena sebuah ketidaksengajaan. Inilah yang dialami oleh Vivi, seorang Odha.
Vivi (orang yang berbeda dengan Vivi yang saya temui di talk show) adalah seorang istri yang setia. Namun, kesetiaan itu malah dibalas dengan air tuba oleh sang suami. Sang suami, yang ternyata pengguna narkoba arum suntik, malah  menularkannya virus HIV. Sekarang, Vivi sudah 10 tahun menjalani hidup usai divonis menjadi seorang Odha (viva.co.id, 25/1/2012).
Ketika seseorang sudah tervonis menjadi Odha, seringkali mereka mendapatkan perlakuan diskriminatif dari orang-orang disekitarnya. Perlakuan ini dilakukan oleh keluarga, lingkungan masyarakat, bahkan petuga kesehatan. Persepsi  bahwa pengidap adalah pembawa virus berbahaya memunculkan perilaku diskriminatif. Keluarga dan masyarakat cenderung melakukan tindak pengucilan pada Odha. Misalnya, tidak mengizinkan anggota keluarga untuk mendekat pada Odha, tidak diakui sebagai anggota keluarga lagi, mengusirnya ke pinggiran desa, dan mengucilkannya dari pergaulan kemasyarakatan.
Salah satu kasus diskriminasi yang  ramai dibicarakan adalah kisah Fajar Jasmin Sugandhi, seorang Odha. Dia harus menelan pil pahit bahwa sang buah hati, Immi, ditolak masuk di SD Don Bosco 1 Kelapa Gading. Immi ditolak karena sang ayah seorang Odha. (batampos.co.id, 13/12/2012). Tidak penolakan ini tentu memicu berbagai reaksi termasuk Fajar sendiri. Dia merasa sangat kecewa atas perlakuan itu. Apalagi alasan penolakan anaknya adalah karena dirinya. Padahal, sang anak sendiri sudah dinyatakan negatif usai menjalani berbagai pemeriksaan medis. Kasus ini akhirnya berakhir damai dengan permintaan maa dari pihak Don Bosco.
Selain keluarga dan masyarakat, tindak diskriminatif juga dilakukan oleh petugas kesehatan. Pada dokter dan perawat ogah-ogahan melayani  Odha karena resiko tertular. Berdasarkan keterangan yang dilansir oleh Asisten Sekjen Komunitas ODHA Bali (KOBA) Yurike Ferdinandus, beberapa tenaga kesehatan secara terang-terangan menolak memberikan pelayanan kesehatan ketika mengetahui pasien yang ditangani positif mengidap HIV/AIDS (odhaberhaksehat.org, 19/10/2011).
Tindak diskriminatif sebenarnya adalah perilaku yang  lumrah jika dilakukan. Secara psikologis, manusia memang cenderung menghindarkan diri dari sesuatu yang membahayakan dirinya. Berdasarkan cara pandang ini, pengucilan terhadap Odha adalah hal terbaik yang bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus tersebut.

Meskipun tindak diskriminatif bisa dipahami sebagai sebuah reaksi manusia terhadap bahaya, tindak tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kita perlu memberikan dukungan sosial  pada Odha untuk melindungi jiwa kita dan mereka.

D. DUKUNGAN SOSIAL UNTUK  ODHA
Apa sih dukungan sosial? Barangkali ada pembaca yang menanyakan hal itu.

Menurut Jacobson (dalam Orford, 1992) dukungan sosial berarti suatu bentuk tingkah laku yang menunmbuhkan perasaan nyaman dan membuat individu percaya bahwa individu itu dihormati, dihargai, dicintai, dan bahwa orang lain bersedia memberikan perhatian dan keamanan (gunadarma.ac.id).

Sebagai sesama manusia, sudah menjadi tanggung jawab moral kita untuk memperlakukan Odha selayaknya manusia yang lain. Meskipun mereka dianggap berbahaya, namun mereka tetap manusia yang memiliki hak asasi paling haqiqi yaitu hak untuk hidup dan diperlakukan sebagai manusia.

Selain sebagai tanggung jawab moral, memberikan dukungan kepada Odha adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk melindungi jiwa kita dan mereka. Inilah mengapa dukungan itu perlu diberikan.

Pertama, dukungan sosial yang kita berikan dapat memberi mereka mereka kekuatan untuk berani mengutarakan perihal kondisi mereka. Inilah alasan utama mengapa sebuah dukungan perlu diberikan. Selama ini, para Odha enggan mengakui atau mengungkap kondisi asli mereka karena takut tidak sanggup memikul beban hidup sesudahnya. Bukan hal yang baru jika Odha seringkali mendapatkan perlakukan diskriminatif dari orang-orang disekitarnya, Inilah yang tidak mereka inginkan karena mereka ingin tetap menjadi bagian yang diterima oleh masyarakat.

Ketika seorang Odha tidak mengungkapkan kondisi aslinya, maka situasi ini sangat berbahaya bagi orang-orang disekitarnya. Resiko penularan akan sangat besar. Padahal, jika ada keterbukaan dari Odha dan masyarakat, maka para Odha bisa mendapatkan pembinaan dan perlindungan lebih intensif sehingga tidak membahayakan orang-orang disekitarnya.

Kedua, dukungan sosial yang kita berikan dapat melindungi kita tindak kejahatan yang mungkin akan dilakukan oleh Odha. Sebagaimana yang saya jelaskan di atas, para Odha seringkali mendapatkan perlakuan diskriminatif bahkan kurang manusiawi dari orang-orang di sekitarnya. Perlakuan semacam ini bisa menimbulkan stres berlebihan. Jika stres itu diteruskan maka terbukalah kemungkinan bagi para Odha untuk melakukan tindak kejahatan kemanusiaan yaitu sengaja menularkan virus pada orang lain. Ibaratnya, kenapa hanya saya yang mengalami hidup seperti ini? Orang lain pun harus merasakan apa yang saya rasakan. Bermula dari situlah tindak kejahatan itu di lakukan.

Jujur, hal semacam ini pernah saya alami ketika masih duduk di bangku SMA. Saat itu, muncul rumor bahwa kursi bioskop dipasangi oleh jarum-jarum suntik yang mengandung HIV dan AIDS. Tujuannya adalah membuat orang-orang terkena virus dan menjalani hidup seperti yang para Odha rasakan. Dampak rumor itu ternyata cukup signifikan. Banyak teman yang mengurungkan niat untuk nonton di bioskop karena takut tertusuk jarum suntik. Sesungguhnya, kejadian semacam itu tidak perlu terjadi jika kita memberikan dukungan pada mereka. Mereka tidak perlu merasakan ketidakadilan dan keputusasaan sehingga membuat mereka melakukan kejahatan pada orang-orang di sekitarnya.


Ketiga, dukungan sosial yang kita berikan  dapat membantu mereka untuk mendapatkan pengobatan yang layak. Sudah menjadi rahasia umum jika para petugas kesehatan melakukan diskriminasi pada Odha. Padahal, Odha sangat membutuhkan pengobatan dan perawatan yang intensif. Dengan memberikan dukungan, kita bisa membuat para petugas memahami tentang HIV dan AIDS sehingga para Odhabisa mendapatkan perlakukan medis yang layak dan manusiawi. Demikian pentingnya sebuah dukungan untuk para Odha. Jadi, mari memantapkan hati untuk mendukung mereka.
E. BAGAIMANA CARA MEMBERIKAN DUKUNGAN SOSIAL PADA ODHA?
Ada beberapa cara untuk memberikan dukungan sosial pada Odha. Menurut Sarafino (2006), dukungan sosial dibagi menjadi 4 yaitu dukungan emosional dan penghargaan, dukungan instrumental, dukungan informasi, dan dukungan persahabatan (library.binus.ac.id)
  1. Dukungan emosional dan penghargaan. Kedua dukungan ini mengarah pada pemberian perhatian, kepedulian, ekpresi empati, dan kasih sayang pada Odha. Selain itu, Kita juga bisa memberikan dorongan yang positif serta menghargai ide, keputusan, dan perilaku yang Odha lakukan.
  2. Dukungan Instrumental. Dukungan ini mengarah pada pemberian bantuan secara langsung atau tidak langsung yang dapat berupa jasa atau benda. Misalnya, memberikan perlengkapan hidup, kebutuhan rumah tangga, dan membantu Odha mengurus kehidupan mereka.
  3. Dukungan Informasi. Dukungan ini mengarah pada pemberian saran, nasihat, kritikan, dan petuah yang dapat membantu Odha untuk menghadapi kerasnya hidup dan perlakuan diskriminatif yang mungkin diterima dengan sabar dan tabah.
  4. Dukungan persahabatan. Dukungan ini erat kaitannya dengan hakikat kita sebagai makhluk sosial. Dukungan ini mengarah pada pemberian dukungan berupa penerimaan dalam sebuah kelompok atau lingkungan sehingga Odha merasa diterima sebagai bagian dari masyarakat.

Sekarang, bagaimana merealisasikan dukungan-dukungan itu pada Odha yang ada di sekeliling kita?

Dukungan emosional dan penghargaan dapat direalisasikan dengan sedikitnya 2 cara, yaitu
  • Mengingatkan Odha untuk teratur minum obat. Hal ini merupakan bentuk perhatian dan kepedulian pada Odha. Hal ini paling bisa dilakukan jika kita adalah orang terdekat dari Odha misalnya keluarga, istri, suami, atau anak. Namun, tidak menutup kemungkinan kita bisa melakukannya sebagai bentuk kepedulian sebagai teman atau sahabat. Hal semacam ini pernah dilakukan oleh istri Fajar Jasmin. Dia sering mengingatkan sang suami untuk teratur minum obat.
  • Memuji Odha atas ide dan kerja keras yang dilakukannya. Pujian adalah bentuk apresiasi positif yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri manusia. Odha pun demikian. Kita perlu mengapresiasi atas apa yang mereka lakukan atau ciptakan. Apresiasi ini sangat penting diberikan pada Odha kalangan anak-anak. Dengan memberikan pujian, mereka akan tumbuh menjadi anak yang baik dan percaya diri di tengah deraan penyakit yang dideritanya.
Adapun dukungan instrumental  dapat direalisasikan dengan sedikitnya 2 cara, yaitu
  • Membantu menyiapkan kebutuhan hidup Odha. Seringkali orang-orang menghindari kontak apapun dengan Odha. Mereka tidak mau menyentuh benda-benda yang akan digunakan bahkan akan digunakan oleh Odha. Mereka memaksa Odha untuk melakukan semua hal sendirian. Padahal, Odha adalah manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan dalam menyiapkan berbagai kebutuhan hidup. oleh karena itu, kita perlu membantu mereka. Misalnya, menyiapkan sarapan, membersihkan tempat tidur, menyiapkan obat, dan sebagainya.
  • Memberikan bantuah hidup yang dibutuhkan Odha. Odha seringkali terkendala masalah keuangan. Mengapa? karena nyaris tak ada seorangpun yang mau mempekerjakan mereka. Hasilnya, Odha tidam mampu mencukup kebutuhan hidup bahkan membayar ongkos pengobatan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memberikan sedkit bantuan untuk mencukupi kebutuha hidup mereka. Misalnya sandang pangan dan uang.
Dukungan ketiga yaitu dukungan informasi dapat direalisasikan dengan sedikitnya 2 cara, yaitu
  • Menasihati odha untuk tetap tabah dan sabar. Nasihat selalu mujarab untuk membangkitkan ketabahan dan kesabaran dalan diri seseorang. Demikian pula dengan Odha. Mereka membutuhkan nasihat tentang arti ketabahan dan kesabaran agar mampu menghadapi kehidupan yan keras ini.
  • Menasihati Odha tentang bagaimana menjaga diri dan orang lain di sekitarnya. Odha membutuhkan nasihat yang dapat memandu mereka untuk menjaga diri dan orang lain disekitarnya. Misalnya, nasihat tentang luka. Odha perlu tahu bagaimana merwat luka terbuka agar tidak membahayakan diri dan orang lain.
Dukungan keempat yaitu dukungan persahabatan dapat direalisasikan dengan sedikitnya 2 cara, yaitu
  • Tetap menjalin komunikasi dengan Odha. Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan komunikasi dengan orang lain. Tetap menjalin komunikasi dengan Odha dapat membatu mereka untuk mendapatkan semangat hidup karena ternyata masih ada orang yang peduli dan menganggap mereka sebagai manusia. Selain itu, komunikasi adalah kunci untuk menjaga Odha dan orang lain di sekitarnya. Ketika komunikasi terjaga, seorang Odha bisa membicarakan apapun tentang dirinya. Dengan demikian, kita bisa tau apa yang mereka butuhkan dan apa yang bisa kita lakukan untuk mereka. Selain itu, komunikasi yang terjaga juga dapat membantu kita memonitor kondisi Odha dan perilakunya sehingga orang-orang yang disekitarnya bisa terhindar dari resiko penularan.
  • Tidak mengucilkan Odha dari pergaulan masyarakat. Sudah disepakati bahwa pengucilan bukan tindakan yang tepat pada Odha. Oleh karena itu, jangan mengucilkan mereka dari pergaulan masyarakat, lingkungan, dan keluarga karena hal itu sangat tidak manusiawi meski mereka memiliki virus paling menakutkan di tubuhnya. Odha perlu dilibatkan dalam kegiatan kemasyarakatan, misalnya penyuluhan tentang HIV/AIDS. Dalam kegiatan ini, Odha bisa sharing tentang hidup mereka sehingga bisa mendatangkan hal positif bagi pendengar yaitu menjaga hidup agar tidak tertular penyakit itu.

Ada sangat banyak cara untuk memberikan dukungan sosial pada Odha. Kita sebagai manusia pelu melakukan salah satu sebagai wujud kepedulian pada mereka. Dengan tekad dan kehati-hatian, kita bisa membantu Odha mendapatkan hidup yang lebih baik sekaligus menjaga diri kita dari penularan HIV/AIDS.

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes blog Odha Berhak Sehat

Sumber tulisan biar ga plagiasi (Mari menghargai karya orang lain ^_^)

  1. Informasi tentang Odha diambil dari http://health.groups.yahoo.com/group/wartaaids/message/2761
  2. Informasi tentang HIV diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/HIV
  3. Persentase dominasi seks bebas diambil dari http://nasional.kompas.com/read/2011/11/21/15520126/Seks.Bebas.Kini.Dominasi.Penularan.HIVAIDS
  4. Presentasi seks bebas di kalimantan selatan diambil dari http://regional.kompas.com/read/2012/12/03/11523291/Sekitar.56.Persen.Penularan.HIV/AIDS.melalui.Hubungan.Seksual.
  5. Presentase penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak diambil dari http://health.kompas.com/read/2012/07/04/04365357/Penularan.Ibu.Hamil.ke.Bayi.Naik.150.Persen
  6. Kisah Vivi diambil dari http://life.viva.co.id/news/read/282833-kisah-pilu-istri-penderita-hiv-aids
  7. Keterangan yang dilansir oleh Asisten Sekjen Komunitas ODHA Bali diambil dari http://www.odhaberhaksehat.org/2011/penderita-hivaids-di-indonesia-masih-alami-diskriminasi-akses-kesehatan/
  8. Kisah Fajar Jasmin diambil dari http://www.batampos.co.id/13/12/2011/kisah-suami-yang-positif-hivaids-tapi-istri-dan-ketiga-anaknya-negatif/
  9. Pengertian dukungan sosial diambil dari http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2009/Artikel_10503068.pdf
  10. Macam-macam dukungan sosial diambil dari http://library.binus.ac.id/eColls/eThesis/Bab2/2011-2-00008-PL%202.pdf

¡Compártelo!

Tulisan ini di repost dari Hilmia Wardani / @benitoramioN / http://benitoramio-nugroho.blogspot.com/2012/12/ayo-memberikan-dukungan-sosial-pada.html

keterangan Gambar : www.giveforward.com

Facebook Comments

Incoming search terms:

  • peduli sosial bagi penderita odha
  • cara memberi dukungam pasien yang terkena hiv postif
  • pentingnya dukungan moral terhadap odha
  • dukungan untuk penderita hiv
  • dukungan sosial yang diterima penderita hiv aids
  • dukungan sosial pd hiv
  • peduli odha dan keluarga
  • Ohida gambar
  • menangani ODA OHIDA
  • Kita berikan dukungan apa terhadap keluarga yng menghadapi masalah