Just in case
"Viral Load untuk melihat keberhasilan pengobatan HIV, Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan."

Kapan Sebaiknya ODHA terapi ARV?

Beberapa saat yang lalu ada banyak sekali pertanyaan masuk baik ke twitter OBS ataupun BBM kami tentang kapan seorang ODHA sebaiknya memulai terapi ARV. Sangat menarik yaa.. karena ternyata penyedia layanan atau dokter punya banyak sekali pendapat yang akhirnya bikin bingung kita kita semua. Sedikit sharing aja berdasarkan apa yang kami tahu. Hingga Tolong koreksinya jika ada yang keliru yah.

Jadi Kebijakan memulai terapi ARV yang digunakan di Indonesia, masih berdasarkan pada kebijakan terakhir yang dikeluarkan oleh Kementrian kesehatan. Ini kebijakan kemenkesnya bisa dilihat di Link ini : http://www.iac.or.id/surat-kemenkes-ke-rs-perintahkan-penggantian-arv-jenis-d4t-dengan-tdf/#.UVlE-r-cHGQ

Nah, Mengacu pada surat diatas, jelas disebutkan bahwa angka CD4 masih jadi patokan. Angka CD4 <350, mulai terapi ARV. Dalam implementasinya, kadang dokter tidak mengacu pada ini jika dilihat kondisi tertentu yang specific. Misalnya adanya Infeksi Oportunis Berat atau jumlah virus yang tinggi. IO ini maksudnya adalah Infeksi Opportunistik. Ini adalah infeksi yang mengambil kesempatan di kala daya tahan tubuh seorang pasien sedang melemah. Oiya, Jumlah virus itu bisa diketahui dengan tes yang bernama Viral Load. Biayanya berkisar 600.000 – 1.200.000. Angka virus tinggi dan atau ada infeksi opportunistik berat, maka meskipun angka CD4 tinggi maka pasien akan dianjurkan tetap memulai terapi ARV.

Ada wacana yang sedang didiskusikan adalah kemungkinan terapi ARV ini menjadi metode pencegahan infeksi baru HIV yang efektif. Ini yang dikenal dengan nama Treatment as Prevention atau pengobatan adalah pencegahan. Dokumen pendukungnya bisa dilihat di hasil riset ini http://www.hptn.org/research_studies/hptn052.asp tapi Masih banyak perdebatan di topik Treatment as Prevention ini.

Misalnya: apakah hanya berlaku di hubungan seksual, apakah berlaku bagi heteroseksual dan juga homoseksual dan lainnya. Ide dasarnya adalah dengan memberikan ARV yang “termonitor” dan efektif bekerja maka tingkat penularan baru HIV bisa diturunkan sebesar 96%. Karena bukti ini semakin dipercaya, maka kemudian lahirlah wacana diperlukannya perluasan akses test HIV dan terapi ARV. Ini yang dikenal dengan Test and Treat.

Test and treat ini di Indonesia belum menjadi kebijakan jadi baru sekedar wacana. Kebetulan salahsatu kawan kami adalah anggota tim yang jalankan assessment Test and Treat ini bersama rekan WHO dan Kemenkes. Test and treat menekankan pada perluasan akses test HIV. Ini kenapa Kemenkes kemudian menaruh target tinggi sebanyak 4,5 juta orang akandites HIV sampai dengan 2015. Setelah orang dites HIV, bagi yang positif kemudian ditawarkan untuk memulai terapi ARV. Tanpa memperhatikan angka CD4 maupun kondisi fisik lainnya.

Tujuan akhir dari ini adalah agar setiap orang tahu status HIV mereka dan bagi yang positif diberikan terapi agar less infectious dan bisa bertahan hidup sehat lebih lama. Tapi kenyataannya tidak demikian. Banyak tantangan yang keluar ketika melakukan assesssment ini dan akan membuat test and treat tidak bisa berjalan dengan baik. Bicara test and treat tidak hanya bicara mengetes orang sebanyak-banyaknya dan kemudian diberikan ARV. Bagaimana kesiapan kita menyediakan ARV-nya? Apakah subsidi kemudian akan dicabut? Lalu bagaimana dengan kesiapan mental dari ODHA ketikajalani terapi ARV? Ingat ARV harus diminum dengan patuh seumur hidupnya jika tidak maka akan kebal dan justru bahaya

Berdasarkan hasil studi, orang yang memulai ARV dengankondisi tubuh buruk/Angka CD4 rendah lebih punya kecenderungan untuk lebih patuh meminum ARV dibanding yang memulai dalam kondisi sehat. Ada beberapa masalah lain yang masih terus didiskusikan sebelum akhirnya ada kebijakan atau tidak mengenai ini. Singkatnya, sampai hari ini TIDAK ada kebijakan memberikan ARV kepada ODHA begitu dia tahu statusnya atau tanpa memperhatikan angka CD4. Jika terjadi kasus dilapangan, ini disebabkan kelemahan pemahaman terkait dengan terapi ARV dan komunikasi yang terputus dengan dokternya. Sampai hari ini, memulai ARV harus dengan indikasi CD4<350, adnaya IO berat (tb) atau Viral Load tinggi. Silahkan, Ini link yang bisa dibaca untuk panduan memulai terapi ARV: http://www.avert.org/antiretroviral.htm

Facebook Comments

Incoming search terms:

  • pemberian arv
  • berapa lama odha dapat bertahan hidup
  • berapa lama odha bisa bertahan hidup
  • terapi arv terbaru
  • kapan arv diberikan
  • arv terbaru
  • indikasi pemberian ARV
  • arv untuk hiv
  • arv hiv
  • syarat pemberian arv