Just in case
"Viral Load untuk melihat keberhasilan pengobatan HIV, Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan."

Membangun Support System Bagi ODHA

Sumber : Google Image

Sumber : Google Image

Hidup dengan virus HIV dalam tubuh. Mengkonsumsi obat bertahun-tahun dan masih dilanjutkan seumur hidupnya, biaya pengobatan yang harus mereka keluarkan jika ada infeksi penyerta, Stigma dan diskriminasi yang kerap muncul di sekitar dan terus menghantui bukan hanya di lingkungan terdekat, namun juga lingkungan sekolah, tempat bekerja, atau bahkan yang paling menyedihkan di dalam keluarga. Sebuah catatan yang sering diterima ODHA Berhak Sehat dari banyak sahabat ODHA dalam curhat-curhat rutin mereka kepada tim kami.

Yap, hidup dengan HIV tidaklah mudah. Eits, tapi bukan tidak mungkin untuk menjalani hidup yang lebih baik serta lebih sehat walaupun kita memiliki virus HIV dalam diri kita. Ada beberapa hal penting yang dapat kita ciptakan agar kedepannya, masalah-masalah yang kerap kali muncul tersebut dapat perlahan tereliminasi dan menjadi lebih baik. Adalah sebuah system yang dapat dibangun bernama dukungan. Bagaimana Support system itu dapat membangun kehidupan ODHA yang jauh lebih baik, berikut adalah pengalaman-pengalaman yang diceritakan beberapa teman ODHA,

 

Sumber : Google Image

Sumber : Google Image

Mengajak Bicara keluarga – Membangun dukungan dari dalam

“Awalnya saya sangat sedih dan takut. Saya merasa sendirian. Keluarga sudah tahu kondisi saya. Mereka tidak banyak bicara. Lalu saya berfikir, bagaimana saya bisa tahu apa yang mereka rasakan, serta mereka bisa tahu apa yang saya rasakan jika kita semua sama-sama diam. Lalu saya mencari waktu untuk mengajak mereka duduk berbicara. Bahwa HIV kini telah menjadi bagian dari keluarga ini, suka atau tidak. Rasa penyesalan pun saya sampaikan kepada mereka. Dan kini yang terpenting bagi saya adalah bagimana kembali sehat. Pada saat itu saya sadar, orangtua saya dalam keadaan bingung. Mereka sedih, khawatir dan kecewa. Kondisi yang tidak mudah dirasakan orang yang sudah melihat saya tumbuh sejak berupa janin. Lalu kami bergandengan tangan dan memutuskan untuk menjalani ini semua bersama. Kami memutuskan untuk menyegerakan mencari informasi dan melakukan pengobatan yang katanya sudah tersedia di rumah sakit. Saya tidak mau menjadi manusia yang lemah dan cengeng hanya karena HIV. Tapi saya tidak bisa sendiri. Saya butuh kedua orangtua saya” (Testimoni Sahabat OBS)

 

Membuat Jadwal Pemulihan Kesehatan

Sumber : Google Image

Sumber : Google Image

“Waktu gue tahu gue HIV, rasanya bete banget. Rasanya pengen mati aja. Gue nyesel sih, karena kelakukan gue dulu, sekarang gue ngerasain akibatnya. Kakak gue orangnya selalu terencana hidupnya. Untung banget dia mau bantuin gue. Gue dibeliin buku, dia bilang kalo gue sedih, gue bisa nulis dan curhat uneg-uneg gue disana. Trs di buku itu, dia ngajarin gue untuk ngisi kotak-kotak yang udah tersedia. Kapan waktunya ke rumah sakit, kapan waktunya gue ambil obat atau cek darah. Gue juga bisa catat semua advice dari dokter soal bagaimana caranya supaya sehat lagi. Begitu juga masukan dari teman2 gue, soal bagaimana tips buat naikin CD4 atau supaya gue gemuk lagi. Lu harus coba deh, setelah gue mulai menjadwal ulang kehidupan gue, mencatat semua kegiatan serta apa yang gue rasakan. Enakan rasanya, feel much better.” (Testimoni Sahabat OBS)

 

Mencari Teman Sebaya Untuk Bicara

“Aku orangnya tertutup banget. Makanya pas aku tau aku HIV, aku

Sumber : Google Image

Sumber : Google Image

simpan semuanya sendiri. Pacar aku udah meninggal, jadi aku ga cerita sama siapa-siapa, termasuk orangtua, ataupun sahabat-sahabat yang dulunya suka main bareng. Aku takut banget mereka semua ngejauhin aku karena aku HIV. Sekarang udah 3 tahun lebih. Aku udah sehat, minum obat juga rutin. Bedanya sekarang aku punya teman. Sebutannya sih katanya teman sebaya. Bukan sebaya seumuran ya, tapi sebaya karena memiliki persoalan yang sama. Aku dikenalin sama dokter aku di klinik. Katanya kalau ngobrol sama sesame teman yang HIV juga, rasanya lebih enak. Karena punya teman curhat. Dari pada sendirian atau ngobrol sama tembok, bisa-bisa aku depresi nanti. Dulu teman aku Cuma satu dua orang, sekarang udah lebih dari 20. Semuanya HIV, dan semuanya dukung dan support aku selalu. Begitupun aku, aku selalu berusaha buat kasih mereka support selama aku masih bisa.” (testimony sahabat OBS)

 

Melakukan Aktifitas yang Saya suka, untuk mengalihkan energy Negatif

basketball_desplainesparks.org_

Sumber : Google Image

“Kata orang, kalau udah HIV pasti mati. Gila aja, serem banget tuh statementnya. Dulu sempet stress juga dengar orang ngomong gitu. Gue soalnya HIV, dan masa iya gue harus mati karena virus ini. Yang gue tau, gue udah pasti mati mati juga sih, tapi gue gak mau mati sia-sia. Pas gue tahu gue HIV, gue gak gentar. Gue inget sama pemain basket idola gue jaman kecil, dia juga HIV. Tapi dia ssehat, dan dia terus minum ARV. Jadi gue piker, daripada gue pusing sama apa yang orang bilang, mendingan gue main basket aja lagi. Walaupun ga jadi atlit atau pemain nasional. Tapi paling enggak, basket bantu gue buat ngelepas beban hidup. Gue tetep minum obat, tetep kerja dan gue olahraga, itu aja. Hidup gue ga ada yang berubah. Malah jadi makin baik” (Testimoni Sahabat OBS)

 

Nah, 4 pengalaman Sahabat OBS ini menarik ya. Dengan sudut pandang yang berbeda, mereka bisa memberikan inspirasi, walau HIV ada dalam tubuh, mereka tetap memiliki cara masing-masing yang dinamakan membangun support system. Bagaimana dengan kalian? Punya pengalaman menarik terkait support system baik yang dilakukan oleh diri sendiri ataupun dibantu dengan teman? Hayuk share sama kita. Tetap semangat menghadapi hidup dan jangan kalah sama keadaan, tapi berdamai dengan kehidupan! Semangat yaa!

Facebook Comments

Incoming search terms:

  • menjadi teman bagi odha