Just in case
"Viral Load untuk melihat keberhasilan pengobatan HIV, Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan."

Workshop Tuberculosis Bersama Para Blogger Part II

Dokumentasi #SahabatJKN #LawanTB

Dokumentasi #SahabatJKN #LawanTB

Menyambung Tulisan, Workshop Tuberculosis Bersama Para Blogger Bagian pertama, maka di tulisan artikel #ODHABerhakSehat kali ini akan ada lebih banyak kisah menggugah serta pelajaran berharga yang didapat oleh para peserta Workshop. Masih di hari ke-2, setelah serangkaian kunjungan langsung di Rumah Sakit Hasan Sadikin, peserta walau lelah, masih sangat semangat menjalani sisa pelatihan yang tinggal 1 setengah hari lagi. Terlihat dari antusiasme mereka saat kembali kedalam ruang kegiatan, karena sesi berikut merupakan sesi yang sangat inspiratif. Bukan hanya membuka wawasan serta cara pandang mengenai Tuberculosis itu sendiri, tapi juga menunjukan bahwa Tuberculosis dan penyakit lain seperti HIV, bukan hanya persoalan kesehatan yang hanya dipandang sebelah mata, ini merupakan persoalan sosial yang merupakan tanggaung jawab bersama, baik pemerintah dan masyarakat itu sendiri.

Komunitas Terjang, merupakan komunitas yang anggotanya terdiri dari para survivor TB dan TB MDR, yang berkumpul untuk kemudian saling memberikan dukungan kepada sahabat sahabat mereka, para pasien dengan riwayat kesehatan yang sama. Mewakili Komunitas Terjang, ada 4 perempuan cantik, sebut saja mereka Ratna, Sari, Nia dan Lisa. keempatnya hadir atas undangan pihak panitia untuk berbagi kisah, perjuangan melawan TB MDR dan suka duka serta tantangan dan pengalaman berarti. 2 diantara mereka telah pulih dari TB MDR, secara fisik kondisi mereka sangat baik dan sehat. Namun siapa yang pernah menyangka, masa lalu yang menyedihkan menjadi bayang bayang mereka dan sejenak membuat semua peserta yang hadir di workshop TB ini menyimak penuh makna. Mbak Ratna, karena Tuberculosis yang diidapnya,  sang suami memutuskan untuk menyerah dan meninggalkan beliau. Walau hal ini sempat membuatnya sedih, namun mbak Ratna membuktikan bahwa dia dapat kembali sehat dan bisa kembali ke Masyarakat. Kini Mbak Ratna yang telah sehat kembali duduk di hadapan para Blogger membagi kisahnya dengan tegar, dan membuktikan bahwa Tuberculosis dapat disembuhkan.

Lain lagi dengan Kisah Mbak Mbak Nia. Bukan hanya mengidap TBC, Mbak Nia yang berkulit hitam manis dengan senyum yang malu malu, menyampaikan bahwa dirinya juga terinfeksi HIV. Sehingga proses pengobatan yang tidak mudah harus dijalaninya. Begitu banyak obat yang harus diminum, dan kesehatan yang harus extra dijaga. Walaupun begitu, Mbak Nia tetap semangat menjalani hidupnya. Mbak Nia membuktikan kepada masyarakat dan keluarga, walaupun hidup dengan HIV, dan sedang menjalani terapi Tuberculosis, Mbak Nia tidak patah arang, tetap berobat dengan konsisten dan tidak akan menyerah. keempat perempuan hebat dari Komunitas Terjang merupakan secuil contoh dari begitu banyak kasus yang terjadi di Bumi Indonesia. Dimana, penularan TBC yang begitu mudah membuat banyak sekali masyarakat terserang bakteri TBC. Namun, mereka yakin, dengan konsisten menjalani pengobatan dan perawatan, mereka dapat kembali ke masyarakat.

Yang selanjutnya menginspirasi adalah Budi dan Bunga. 2 orang anak yang terpaut usia 1 tahun merupakan pasien TB MDR, di RS HAsan Sadikin. keduanya datang didampingi Nenek dan ibu, serta Ibu Ayi yang merupakan Kader Puskesmas Cimahi. Kehadiran 2 bocah ini, sontak menggelitik tanya dari para blogger, bagaimana perasaan mereka saat harus terus menerus minum obat. Bunga, berusia 10 tahun. Gadis cilik yang menggunakan kerudung ini datang diantar sang ibu yang dengan semangat merawat dan memberikan dukungan kepada putrinya. Bunga mengidap TBC, dan masih sedang dalam masa pengobatan. Namun karena ketekunan sang Ibu dalam mendampingi putrinya, Bunga yang mengaku rasa obat tersebut pahit, tetap semangat menjalani pengobatan. Lain lagi dengan Budi.

Budi yang senyumnya mengembang sejak pertemuan pertama mimin, bukan hanya memiliki Tuberclosis, namun dia mengidap virus HIV dalam tubuhnya. Kondisi kekebalan tubuhnya yang lemah, membuatnya sangat rentan terinfeksi penyakit lainnya seperti salah satunya Tuberculosis. Sang nenek yang senantiasa mendampingi dan merawat Budi sejak ayah dan ibu-nya meninggal, bercerita kepada kami semua yanghadir, bahwa perjuangan Budi tidaklah mudah. Hingga hari ini, Budi tidak dapat bersekolah, bukan karena tidak memiliki biaya atau karena persoalan stigma dan diskriminasi. Namun kondisi tubuhnya yang masih dalam fase pemulihan, membuatnya tidak bisa fokus mengikuti pelajaran di sekolah. Sehingga sang nenek memutuskan untuk fokus kepada pemulihan kesehatan sang anak terlebih dahulu, pendidikan dapat menyusul. Kerentanan ini kami pikir bukan hanya dialami Budi yang saat ini berusia 9 tahun. banyak sekali anak anak di Indonesia yang hidup dengan HIV, tidak mendapatkan pengawasan dan perawatan yang maksimal dari pengasuh baik orangtua atau anggota keluarga lainnya. Bukan karena tidak mau, namun karena ketidaktahuan tentang bagaimana memperlakukan anak dengan HIV agar dapat kembali sehat dan kembali bermain bersama kawan kawannya.

Inspirator terakhir yang hadir sore hari itu adalah, Kang dehan dari Rumah Cemara. Rumah Cemara merupakan sebuah komunitas yang bekerja untuk mendampingi teman teman yang hidup dengan HIV dan memiliki persoalan dengan ketergantungan Narkoba. Selain memiliki rumah rehabilitasi, Rumah Cemara juga melakukan upaya inklusifitas issue HIV kepada masyarakat. Karena kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap HIV saat ini adaah, mereka yang cenderung cuek dan tidak peduli dengan persoalan HIV itu sendiri. Rumah cemara banyak melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan, sehingga Khususnya masyarakat di Bandung saat ini sudah terbilang memahami dan melindungi diri mereka dari bahaya HIV AIDS, serta dapat perlahan mengurangi stigma dan diskriminasi kepada mereka yang hidup dengan HIV dan menggunakan Napza. Selain bercerita mengenai Rumah Cemara, Dehan juga berbagi kisah hidupnya. Dehan yang hidup dengan HIV ini dulunya merupakan mantan pengguna Narkoba suntik jenis putaw. Saat ini Dehan yang aktif mendampingi teman teman ODHA di Bandung dan di Lapas, mengaku sudah hidup sehat dan terbebas dari belenggu narkoba. Dehan juga telah menikah, dengan istrinya yang bebas dari HIV, Dehan memiliki 3 orang anak yang juga bebas dari virus HIV. Dehan adalah satu dari banyak bukti, bahwa mereka yang hidup dengan HIV dapat kembali hidup sehat dan berbagi kepada masyarakat, kembali berkeluarga dan memiliki keturunan tanpa menyebarluaskan virus HIV.

Sebagai bentuk penghormatan kepada seluruh Narasumber yang memberi kami semua inspirasi pada hari itu, mimin tidak menampilkan foto dan menggunakan nama aseli. Hanya nama Kang dehan dari Rumah cemara saja yang tidak kami samarkan karena telah mendapatkan izin dari yang bersangkutan.

Hari Ketiga –   5 Maret 2015

Di hari ketiga yang merupakan kegiatan terakhir dari Workshop Tuberculosis bersama para Blogger ini, peserta melakukan kunjungan ke sebuah Puskesmas yang bernama Puskesmas Garuda yang terletak di Kecamatan Andir. Puskesmas ini memiliki gedung yang sangat besar dan luas sehingga dapat menampung banyak pasien yang berada di sekitar hingga menjangkau ke daerah Cimahi karena memang terletak di Perbatasan. Pada kunjungan ini, seluruh peserta mendapat penjelasan mengenai program Tuberculosis yang dijalankan oleh Puskesmas Garuda. Dan Setelah mendengan paparan dari Ibu Dewi, dari program TB di Puskesmas ini, kita dapat melakukan pemeriksaan dan pengobatan dengan cukup komprehensif lho di Puskesmas ini. Selain itu, di Puskesmas Garuda juga menyediakan layanan pemeriksaan HIV dan Infeksi Menular Seksual sebagai suatu bentuk program yang terntegrasi satu sama lain.

IMAG3833

Dokumentasi #SahabatJKN #LawanTB

Nah, di hari terakhir ini, mimin merasa bahwa banyak sekali kesempatan berharga semacam Workshop ini yang dapat diikuti oleh berbagai masyarakat. Bukan hanya sebagai ruang menambah pertemanan, namun juga dapat membuka mata, bahwa selama ini persoalan penyakit semacam Tuberculos dan HIV, bukan hanya persoalan kesehatan, namun ini persoalan sosial seperti bagaimana masyarakat memiliki gaya hidup, bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan juga lingkungan. ODHA Berhak Sehat mengucapkan banyak terima kasih kepada Subdit TB kementrian Kesehatan, WHO, KNCV Tuberculosis Foundation, karena telah memberi ruang kepada kami untuk mendapat lebih banyak informasi dan pengetahuan khususnya mengenai Tuberculosis.

 

Dokumentasi #SahabatJKN #LawanTB

Dokumentasi #SahabatJKN #LawanTB

 

Facebook Comments

Incoming search terms:

  • cerita ketergantungan putaw
  • perjuangan melawan ttbc part 2