Just in case
"Viral Load untuk melihat keberhasilan pengobatan HIV, Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan."

Perempuan dan HIV

Dalam memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret 2017 ini, Mimin mengajak #SahabatOBS untuk melihat kembali beberapa fakta tentang perempuan. Menurut laporan HIV AIDS 2016 yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan RI, pada tahun 2008 terdapat 10.362 perempuan dengan HIV positif. Sedangkan pada tahun 2016 meningkat menjadi 27.963 perempuan yang HIV positif. Dapat dikatakan jumlah perempuan yang terjangkit virus HIV menjadi 2 kali lipat.

Sedangkan menurut laporan tadi, ibu rumah tangga yang terkena AIDS sebanyak 2.531 orang (sampai tahun 2009) dan pada tahun 2016 berkurang menjadi 618 orang. Apakah berkurangnya angka ibu rumah tangga yang AIDS dikarenakan sembuh setelah treatmen ARV atau karena meninggal dunia karena telat ditangani? Apakah sudah ada penelitian tentang ini? Kalau #SahabatOBS mempunyai datanya silahkan komentar ya.

Menurut Prof Dr dr Tuti Parwati Merati, perempuan lebih rentan tertular virus HIV dibandingkan laki-laki dilihat dari sisi biologis dan hubungan sosial.  “Pada banyak kasus, sering ditemukan seorang istri yang hanya diam di rumah dan pada saat gadis tidak melakukan perilaku berisiko ternyata terkena HIV. Mereka tertular dari suaminya yang melakukan hubungan seksual bergonta-ganti pasangan,” kata Prof Dr dr Tuti Parwati Merati. Ditinjau dari segi biologis, bentuk organ reproduksi perempuan memungkinkan lebih banyak menampung cairan sperma yang kemungkinan mengandung virus HIV.

Dari sisi sosial, perempuan harus mengemban tugas rangkap. Tidak hanya di ranah domestik dengan berbagai kegiatannya mengurus rumah tangga dan tak sedikit harus bekerja. Akibatnya perempuan seakan tidak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri dan kondisi kesehatannya. (Baca: Mengapa Perlu Tes HIV?)

Kaum perempuan seringkali baru memeriksakan dirinya sangat terlambat ketika sudah dalam kondisi sakit dan sudah pada fase AIDS. Demikian juga terkait akses informasi, ketika ada sosialisasi HIV/AIDS, kerapkali yang diprioritaskan mendapatkan informasi hanya kaum pria. (Baca juga: Pentingnya Tes HIV bersama Pasangan).

Kunci tidak menularkan HIV sebenarnya terletak pada laki-laki. Masalahnya apakah mereka mau membuat perubahan atau tidak dan tidak menularkan pada pasangan dengan memakai kondom? Dalam banyak kesempatan, walaupun tidak ada paksaan, banyak perempuan yang enggan untuk menyarankan perilaku seks yang aman pada pasangannya, karena takut disakiti atau ditinggalkan oleh pasangannya. (Baca juga: Suami Istri HIV Positif Apa Masih Perlu Kondom?)

Tidak tertutup juga perempuan tertular HIV setelah menjadi korban perkosaan. Data tentang ini belum ada, tetapi dari pengalaman konseling, Mimin pernah menemukan seorang ODHA yang mendapat status barunya itu setelah diperkosa oleh seorang pemuda. ODHA perempuan bisa jadi seorang pemakai narkoba suntik yang berbagi jarum dengan pasangan atau teman-temannya. Bisa juga ia seorang perempuan yang tidak memakai narkoba suntik, tetapi melakukan hubungan seks dengan pasangannya, yang seorang pemakai narkoba suntik. (Baca juga: Belajar Mencintai Tanpa Batas, dari Pasangan ODHA)

Banyak perempuan sulit mengakses terapi ARV (antiretroviral/obat bagi orang yang terinfeksi HIV) karena keterbatasan dana yang dia miliki. Walaupun pada saat ini pemerintah sudah memberikan subsidi cukup besar untuk perawatan ODHA, di luar perawatan yang tersedia, seorang perempuan yang ingin menjangkau layanan itu perlu memiliki sedikit modal untuk transportasi, membayar orang yang menunggui anaknya, menyiapkan konsumsi di rumah pada saat ia harus ke rumah sakit dan berbagai urusan domestik yang menjadi tanggung jawabnya. (Baca juga: Dimana Sich Saya Bisa Dapat ARV?)

Para perempuan perlu diberi akses yang seluas-luasnya untuk memahami berbagai ancaman kesehatan tersembunyi yang potensial untuk mengganggu eksistensinya sebagai perempuan yang berdaya dan produktif. Setiap perempuan harus memiliki akses untuk informasi tentang penularan HIV/AIDS, diapun harus bisa melindungi diri sendiri, belajar berkomunikasi secara asertif, bernegosiasi dengan pasangan seksualnya untuk menjalankan seks aman. Pada akhirnya, semua perempuan harus belajar untuk mempercayai diri sendiri dan mempertahankan haknya agar tidak tertular HIV.

Facebook Comments