Depresi Pada Wanita dengan HIV

Ketika baru divonis mengidap HIV, siapa sich yang secara mental engga down, Sahabat OBS? Setidaknya kita akan merasakan apa itu namanya depresi. Nah berdasarkan sebuah studi yang dilakukan di Amerika Serikat, depresi dapat meningkatkan risiko kematian pada perempuan dengan HIV lho. Emangnya ngga berdampak terhadap laki-laki? Hmm tentu juga sich, namun karena studinya hanya fokus pada perempuan, ya kita bahas yang perempuan dulu deh ya. (Baca juga: Baru Terinfeksi)

Implikasi dari studi ini mengarah kepada perawatan HIV, menggarisbawahi pentingnya diagnosa awal dan perawatan terhadap depresi, dan pengawasan secara teratur. Orang dengan HIV AIDS (ODHA) lazim terkena depresi. Dari keseluruhan prevalensi diperkirakan antara 20% – 40% ODHA mungkin memiliki depresi, bahkan lebih tinggi lagi prevalensi nya pada wanita yaitu 30% – 60%. Mungkin karena laki-laki akan melarikan kecemasannya ke hal-hal lainnya sich ya. (Baca juga: Depresi: Yuk Curhat)

Mungkin sulit melihat hubungan antara depresi dan tingkat risiko kematian pada ODHA. Pada beberapa studi lain disebutkan bahwa risiko kematian pada ODHA dengan depresi berhubungan dengan rendahnya keinginan untuk mengunjungi layanan kesehatan, menurunnya tingkat ketaatan terapi ARV atau obat medis lainnya, dan yang sangat berhubungan erat dengan risiko kematian adalah penggunaan obat-obatan terlarang dan risiko bunuh diri. Dan juga, depresi dapat secara langsung mempengaruhi tingkat imunitas.

Pengawasan pada ODHA dengan depresi tidak dapat dilihat dalam periode yang singkat karena pada kenyataannya depresi muncul secara periodik dan berulang sehingga orang awam akan melihat hal tersebut sebagai hal emosional biasa aja yang padahal bisa saja hal tyersebut dapat mempengaruhi tingkat hidup ODHA tersebut seiring dengan waktu. (Baca juga: Kesehatan Mental)

Pada sebuah penelitian lain yang dilakukan oleh Women’s Integrency HIV Study (WIHS) terhadap 818 wanita dengan HIV untuk melihat dampak dari depresi menunjukkan bahwa 72% dari wanita yang memiliki depresi akan meningkatkan risiko kematian.

Para peneliti menyebutkan bahwa hasil tersebut tidak secara umum lalu menggambarkan bahwa pria dengan HIV yang memiliki depresi tidak memiliki risiko kematian yang tinggi juga akan tetapi temuan dari hasil penelitian tersebut dapat dijadikan dasar untuk meningkatkan layanan kesehatan bagi wanita dengan HIV. (Baca juga: Membangun Support System Bagi ODHA)

Mereka juga mengatakan bahwa hasil dari temuan mereka menyoroti bahwa depresi jangka panjang dapat berimplikasi pada layanan kesehatan yang tersedia pada saat ini dimana contohnya pada pedoman pengobatan HIV yang merekomendasikan pemantauan pasien dengan Viral load yang stabil setiap enam bulan namun pada pasien dengan depresi akan dibutuhkan pengawasan yang lebih ketat untuk mengurangi risiko kematian.

Jika kamu baru saja terdiagnosa HIV+, sebaiknya bergabung dengan kelompok pendukung sebaya (support group) agar kamu tidak merasa sendirian ya #SahabatOBS. Kamu dapat bergabung dengan group Telegram #OBS untuk saling sapa dengan sesama komunitas terdampak HIV.

<– Klik gambar di samping ini untuk gabung di group orang-orang kece 😀

 

 

 

 

 

Sumber:

Share This Post

Post Comment