Benarkah Cangkok Sumsum Belakang Dapat Menyembuhkan HIV?

Benarkah Cangkok Sumsum Belakang Dapat Menyembuhkan HIV?

Dalam sejarah HIV,  hanya satu orang yang diyakini telah sembuh dari virus. Timothy Ray Brown, seorang Amerika yang dikenal sebagai “pasien Berlin,” telah tertular HIV selama lebih dari satu dekade, sampai dua transplantasi sel induk pada tahun 2007 dan 2008 “membersihkan” HIV dari tubuhnya.

Sekarang, menurut sebuah makalah Nature, mungkin akhirnya ada pasien kedua.

Seperti Brown, pasien baru itu memiliki suatu bentuk kanker dan menerima perawatan yang melibatkan kemoterapi untuk menghapus sistem kekebalan tubuhnya dan menggantinya, melalui transplantasi sel induk, dengan sel donor baru. Dalam kedua kasus, sel-sel donor juga membawa manfaat tambahan: mutasi genetik yang mengarah pada kekebalan HIV.

Pada bulan September 2017, 16 bulan menerima transplantasi, seorang pasien – pria London yang lebih suka tetap anonim – menggunakan obat antiretroviral untuk menekan HIV namun masih dites negatif dari keberadaan virus tersebut. Sejauh ini, ia dinyatakan tetap bebas HIV.

Sejak Brown, dokter telah mencoba prosedur yang sama di beberapa pasien HIV lainnya, tetapi sampai saat ini, perawatan itu tidak berhasil atau pasien justru meninggal antara karena kanker yang dideritanya atau  karena komplikasi transplantasi.

Untuk memahami kasus pasien London yang dideskripsikan di Nature, kita perlu melangkah mundur dan memahami apa yang terjadi dengan pasien Berlin, Timothy Ray Brown, satu-satunya orang yang diyakini disembuhkan dari HIV.

Seorang warga Amerika yang tinggal di Berlin, Brown menemukan bahwa dia menderita leukemia pada 2006, 11 tahun setelah diagnosis HIV (kanker ini tidak berhubungan dengan HIV-nya). Seperti banyak orang yang hidup dengan HIV saat ini, Brown menggunakan pengobatan antiretroviral untuk menekan virus sampai tidak terdeteksi (undetected).

Karena leukemia Brown telah berhenti merespons kemoterapi, Gero Hütter (dokter spesialis kanker darah,) merekomendasikan transplantasi sel induk alogenik sebagai langkah selanjutnya.

Leukemia adalah kanker darah dan sumsum tulang, dan transplantasi alogenik merupakan metoda untuk memusnahkan sistem kekebalan tubuh dengan kemoterapi dan menggantinya dengan sel induk donor hematopoietik.

Idenya adalah bahwa sel-sel baru dari donor bebas kanker akan meregenerasi sistem kekebalan penerima, membersihkan pasien dari sel-sel ganas.

Alih-alih hanya mencari donor yang cocok dengan jaringan pasien, Hütter punya ide baru: temukan seseorang yang juga membawa apa yang disebut mutasi CCR5-delta 32.

Gambar: https://en.m.wikipedia.org/wiki/CCR5_receptor_antagonis

CCR5 adalah reseptor protein pada permukaan sel kekebalan yang digunakan virus HIV sebagai titik masuknya ke dalam sistem kekebalan tubuh. Satu persen orang asal Eropa Utara dilahirkan tanpa reseptor CCR5 pada sel kekebalan mereka, setelah mewarisi dua salinan gen bermutasi dari kedua orang tua mereka. Orang-orang ini adalah pembawa mutasi CCR5-delta 32 “homozigot”, yang membuat mereka kebal terhadap HIV.

Sejak percobaan itu, dokter lain belum dapat mengulangi kesuksesan Brown. Dari selusin pasien dengan HIV yang mendapatkan transplantasi seperti Brown – melibatkan CCR5-delta 32 sel donor homozigot – delapan meninggal karena efek samping terkait transplantasi atau kambuh kankernya. Sisanya dalam pengawasan dokter tetapi masih menggunakan ARV.

“Setelah ‘pasien Berlin’ ada kontroversi  bagian mana dari perawatan yang bertanggung jawab untuk penyembuhan dari HIV,” Hütter menjelaskan. “Apakah itu prosedur transplantasi, apakah itu CCR5 [mutasi pada sel donor], apakah itu reaksi kekebalan, atau adakah sesuatu yang istimewa, unik pada pasien?”

Terlepas dari bagaimana pengobatan itu bekerja, itu mungkin bukan pendekatan yang realistis untuk semua orang dengan HIV. Kemo yang datang dengan transplantasi sel induk adalah beracun, dan mematikan sistem kekebalan tubuh seseorang dapat mematikan pasien- dan sangat mahal.

Sumber:

Share this post

Post Comment