Just in case
"Viral Load untuk melihat keberhasilan pengobatan HIV, Tidak Terdeteksi = Tidak Menularkan."

CAH GARENG, ODHA KELILING NEGERI #2

12191048_166672903682639_2686944464123688879_nDari sudut rumahnya yang hangat, Ayu Oktariani salah satu pengelola media social ODHA Berhak Sehat menutup sambungan telfonnya. Dia baru saja menerima telfon dari Wijianto, atau Gareng. Seperti di catatan OBS sebelumnya, tentang perjalanan #CahGarengkelilingNegeri yang kini sudah memasuki hari ke-4. Gareng dengan suaranya yang sangat renyah, tidak terdengar lelah, bahkan semangatnya sangat jelas terasa, bertutur mengenai pengalaman yang didapatnya sepanjang perjalanan.

Kemarin 9 November 2015 langkah Gareng diawali dari Depok. Lalu dia mendarat dengan manis di kota Bogor sekitar pukul 3 dan diterima dengan sangat hangat di Rumah Singgah PEKA. Gareng memutuskan untuk beristirahat malam itu karena hujan yang turun dengan derasnya. Pada Ayu, Gareng menceritakan rasa bahagianya dapat bersilaturahmi dengan sahabat-sahabat disana. “Kebanyakan teman yang ada di PEKA itu kan mantan narapidana ya mbak, tapi saya merasa mereka adalah orang-orang yang sangat baik lho, gak seperti yang kebanyakan orang bicarakan tentang napi atau pecandu narkoba!” Gareng pun merasa mendapat keluarga baru yang malam itu menerimanya dengan sangat baik.

1447076156037

Pagi harinya, 10 November 2015 Gareng berniat melanjutkan perjalanan ke arah Sukabumi. Namun dia sedikit ragu apakah mampu menempuh perjalanan yang cukup panjang tersebut dalam satu malam, sehingga dia memutuskan untuk tidak memforsir langkahnya, dan memutuskan untuk singgah di Ciawi malam ini.

Motivasi dan dukungan mengalir deras melalui WhatsApp Grup yang sengaja dibuat dengan nama “GARENG KELILING NEGERI”. Gareng yang mana adalah pemuda asal Nganjuk ini, sering mengirimkan kepada kami pesan suara karena tidak bisa mengetik pesan sembari berjalan. Kalimat-kalimat singkat tentang posisinya saat itu, di update kepada kami yang berada di grup. Ciawi jalan raya Tajur, monitor… Ciawi Jalan Raya Tajur monitor.. atau Roger roger roger.. di sekitar Tajur, di Sekitar tajur 86”. Grup WhatsApp ini selain dibuat untuk memantau posisi Gareng berada dimana, juga sebagai alat bantu jika Gareng membutuhkan bantuan baik berupa informasi jalan, atau koneksi ke teman dan kawan yang dapat disinggahi olehnya.

“Saya tadi bertemu dengan seorang bapak tua. Usianya saya perkirakan 50 tahun, dia sudah 4 hari berada di Bogor, mencari pekerjaan namun tidak kunjung dapat. Bapak tua tersebut berkata, ingin pulang ke Sukabumi. Lalu saya tanya mbak, ‘bapak ke Sukabumi naik apa?’ ‘ya naik angkot Mas’ ‘kenapa gak bareng sama saya saja jalan kaki’ awalnya si bapak ragu dan menganggap saya guyon. Namun untuk beberapa saat akhirnya bapak tua tersebut ikut berjalan kaki bersama saya. Saat wajah sang bapak terlihat semakin lelah, nafasnya pun tinggal satu-satu saya langsung menyuruh dia untuk naik angkutan umum mbak. ‘Berapa kalau naik angkot sampai Sukabumi pak?’ ‘ya sekitar 30 ribu mas’ ‘yowis ini saya kasih 40 ribu, bapaknya naik angkot aja’”

“Tadi juga saya bertemu ular mbak. Ular berbisa tapi ukurannya tidak besar. Sekarang ularnya menemani saya sepanjang perjalanan. Saya taruh di dalam tas, berselimutkan baju saya. Nanti kalau sudah sampai di Ciawi, ularnya aku foto ya mbak. Aku kirimkan ke kamu.”

1447124469855Saat ditanya bagaimana respon warga, masyarakat yang melihat gareng berjalan kaki dengan tulisan besar terpampang “LANGKAH KAKI, JELAJAH NEGERI. CEGAH PENULARAN HIV, DKUNG ORANG TERINFEKSI” ternyata banyak sekali pengalaman yang didapatnya.

“Kayanya kebanyakan orang nyangka saya gila mbak!” lalu Gareng tertawa sambil melanjutkan ceritanya “Di setiap kantor Koramil dan Polsek yang saya lewati kan saya akan berhenti untuk minta stempel dan tanda tangan mbak. Salah satu cerita pada saat tiba di Polsek Depok kemarin, Bapak Polisi disana Nampak tidak percaya bahwa saya akan berjalan kaki. ‘mas nya serius mau jalan kaki?’ ‘yo serius pak, masa naik delman’ lalu si bapak tanya ‘ini isunya HIV gini, emang mas-nya HIV’ ‘lah menurut bapak gimana?’ saya taya balik. ‘ya gak mas, wong mas-nya sehat gini kok, jalan kaki, masa HIV’. Selain itu, ada juga mbak seorang pria yang menelfon saya ditengah perjalanan. Pria tersebut mengaku sempat melihat saya di jalan dan mencatat nomer telfon yang ada di spanduk. Pria tersebut bertanya apa itu ODHA. Lalu saya jelaskan apa itu ODHA. Eh, mas itu kembali tanya, ‘emangnya mas ODHA’ lalu saya tanya balik ‘menurut mas gimana?’ ‘ah bukanlah.. wong jalannya cepet gitu’”

Gareng mengaku, kebanyakan orang masih berfikir bahwa ODHA identic dengan sosok yang sakit dan tidak mungkin melakukan aksi seperti yang Gareng lakukan, orang masih menganggap ODHA adalah sosok yang lemah Jauh dari kata sehat. Sehingga perjalanan Gareng kali ini sesungguhnya membuktikan bahwa, dirinya yang telah hidup dengan HIV selama bertahun-tahun itu tetap sehat, bahkan dapat melangkahkan kaki, menjalankan niat mulia-nya.

Malam ini, 10 November 2015 tepat di hari pahlawan, Gareng tiba di perbatasan antara Bogor dan Puncak. Dia akan berteduh dan beristirahat di LSM yakita, yang berlokasi di daerah Ciawi. Gareng mengaku, belum lelah.. ini belum seberapa ujarnya. Semangat yang ada dalam dirinya patut ditiru oleh lebih banyak teman ODHA di seluruh penjuru tanah air. Jangankan virus HIV, jalan yang panas terik diselingi hujan badai tidak mematikan semangatnya untuk hidup lebih baik. Terima Kasih Cah Gareng, Selamat Hari Pahlawan!

Facebook Comments

Incoming search terms:

  • cerita cah gareng sang penjelajah odha